Makam KH Sholeh Darat Tak Pernah Sepi Peziarah

HAMPIR tiap hari, makam Kiai Haji Sholeh Darat tak pernah sepi dari para peziarah. Silih berganti para peziarah dari berbagai daerah datang ke makam yang berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bergota. Di pendapa pemakaman, juga ada makammakam lain di sekitar makam KH Sholeh Darat. Sholeh Darat merupakan salah satu ulama besar nusantara. Dia memiliki nama lengkap Muhammad Shalih ibn Umar as- Samarani. Lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada sekitar 1820 /1235 H. Biasa disapa Mbah Sholeh Darat, ia merupakan guru para ulama di Nusantara. Dia memiliki beberapa murid, di antaranya pendiri Nahdlaltul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dan pahlawan emansipasi wanita Raden Ajeng Kartini. Meninggal pada 1903 M, makamnya yang berada di TPU Bergota tak pernah sepi dari peziarah. “Peziarah tidak pernah sepi datang ke malam KH Sholeh Darat. Ada yang datang dari Blora, Jepara, hingga luar Provinsi Jateng. Biasanya datang rombongan menggunakan bus,” ujar salah satu juru kunci TPU Bergota, Sumiyati. Kini makam Kiai Sholeh Darat di TPU Bergota ini menjadi salah satu tempat wisata religi yang banyak dikunjungi. Namun, jejak Kiai Sholeh Darat tidak hanya ada di Bergota.

Ada juga Kompleks Masjid Sholeh Darat di Jalan Kakap Nomor 212,Dadapsari,Kecamatan Semarang Utara. Meski tanpa makam, kompleks Masjid KH Sholeh Darat tetap banyak dikunjungi. Di lokasi masjid itulah dulu Pondok Pesantren (Ponpes) Darat berada. Di tempat itu pula Kiai Sholeh Darat mengajar para santrinya. Kini, ponpes tersebut sudah tidak berbekas. Sebagai gantinya adalah masjid dengan nama Kiai Sholeh Darat. Kala itu nama KH Sholeh Darat sangat diperhitungkan Belanda karena ajarannya sangat berpengaruh. Bahkan ketika meninggal dan makamnya selalu didatangi banyak peziarah termasuk para pejuang. Belanda mulai khawatir dan memindahkan makamnya ke daerah Bergota Semarang. Dulu Bergota belum seperti sekarang yang jadi kompleks pemakaman. Masih rawa-rawa, hutan, belum banyak dijangkau. Itu siasat Belanda agar tidak ada sentralisasi massa.

“Dulu sebelum ada masjid, bentuknya langgar atau mushala kecil dari kayu. Karena sering terkena rob (banjir pasang air laut), akhirnya dibongkar oleh cucunya, Kiai Ali Cholil, pada 1992. Jadilah masjid seperti sekarang ini,” kata cicit Kiai Sholeh Darat, Lukman Hakim Saktiawan. Di Masjid ini masih tersimpan kitab-kitab karya Kiai Sholeh Darat. Termasuk kitab terjemahan, dengan tema beragam, mulai dari fikih hingga tasawuf. Saat ini, ada sekelompok pengajian yang mengkaji kitab-kitab itu, yaitu Komunitas Pencinta Kiai Sholeh Darat atau Kopisoda. Replika kentongan yang dulu dipakai oleh Kiai Sholeh Darat untuk menandai datangnya waktu salat juga masih dipajang di bagian depan masjid. Sedangkan kentongan aslin disimpan di ruang takmir. “Masjid ini merupakan bukti sejarah bahwa pada masanya ada seorang Kiai besar, guru bagi ulama-ulama besar di Nusantara,” ujar Gus Lukman. (Hendra Setiawan,-53) Minggu, 19 Januari 2020 | 00:19 WIB

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/214294/makam-kh-sholeh-darat-tak-pernah-sepi-peziarah